Sampah Masker Mulai Menghawatirkan

HandmadNews – Hari Lingkungan Hidup Sedunia atau World Environmental Day diperingati setiap tahunnya pada 5 Juni. Majelis Umum PBB menetapkannya pada 1974. Peringata Hari Lingkungan Hidup Sedunia berawal dari konferensi besar pertama tentang isu-isu lingkungan yang diadakan pada 5-16 Juni 1972 di Stockholm, Swedia. Akhirnya, pada 15 Desember 1972, Majelis Umum PBB membuat resolusi yang menetapkan 5 Juni sebagai Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Sejak 1974, Hari Lingkungan Hidup Sedunia dirayakan setiap tahun dengan melibatkan pemerintah, pebisnis, selebriti, dan masyarakat.

Pasca pandemi Covid-19 melanda dunia, sampah medis khususnya sampah masker, kini menjadi isu lingkungan yang mulai memprihatinkan. Di Bali sendiri, masyarakat selalu menggunakan masker medis, tanpa disadari hal tersebut justru menimbulkan masalah baru bagi penangan masalah sampah di Provinsi Bali. Dari informasi, paparan limbah medis ini bisa menyebabkan penyakit. Pasalnya, limbah kesehatan ini juga mengandung zat atau agen berbahaya seperti, patogen, genotoksik, bahan kimia atau obat beracun radioaktif.

Walaupun masker menjadi hal penting yang tak boleh terlupakan selama pandemi ini. Namun permintaan yang sangat besar terhadap masker sekali pakai turut melahirkan kekhawatiran baru. Para ahli meyakini bahwa penggunaan masker sekali pakai yang meningkat itu tak dibarengi dengan pengelolaan limbah masker dengan benar dan akan menimbulkan ancaman besar bagi alam.

Masker habis pakai yang dibuang sembarangan

Penggiat lingkungan dari Good Karma Movement, Anthi Wijaya mengatakan, masker bekas sekali pakai dapat menjadi salah satu media penyebaran Covid-19, selain itu juga mencemarinlingkungan dan juga bisa mencelakakan hewan, oleh karena itu harus dikelola dengan tepat. Selamai ini ia banyak menjumpai masker bekas yang dibuang sembarangan, seain merusak lingkungan ini juga bisa mencelakakan hewan.
“Masalah sampah medis atau khususnya masker ini, masuk kedalam jenis sampah khusus. Jadi dimana sampah ini perlu penanganan khusus, tidak boleh sembarangan. Kami mengajak masayarakat, setelah pemakaian masker bekas itu harus dipotong terlebih dahulu, baru dibuang. Tetapi jangan dicampur dengan jenis sampah lainnya, karena penanganannya juga berbeda,” ujar Anthi Wijaya.

Anthi Wijaya juga mengajak masyarakat lebih peduli dengan lingkungan sekitar, khususnya dengan pencemaran sampah plastik, selain sampah masker. Ia menyarankan masyarakat untuk bisa mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, salah satunya menggunakan tumbler. “Selain sampah masker yang menghawatirkan juga sampah plastik, seperti plastik botol air mineral. Solusinya kita bisa gunakan tumbler” kata Anthi.

Anthi Wijaya dari Good Karma Movement

Penanganan kelestarian lingkungan jangan hanya menunggu aksi dari pemerintah, tetapi bisa dilakukan sendiri yang dimulai dari lingkungan terdekat saja.

THANK GOD FOR GOOD KARMA